News / Read

Dolar AS variatif pada pasar Asia hari Jumat di tengah spekulasi kebijakan

Blog Single

Dolar AS variatif pada pasar Asia hari Jumat di tengah spekulasi kebijakan 

Dolar diperdagangkan bervariatif pada Jumat pagi, seiring dengan pidato Ketua Fed yang menepis spekulasi akan kebijakan moneter baru dan juga harapan akan stimulus tambahan yang dicadangkan oleh presiden terpilih – Joe Biden.

Biden mengumumkan paket stimulus baru senilai $1.9 trilyun termasuk didalamnya dana bantuan langsung senilai $1.400 untuk menggenapi $600 yang sudah diterima menjadi $2000 seperti yang dijanjikan. Dan masih akan ditambah dengan $400 per minggu hingga bulan September mendatang.

Sedangkan sisanya akan digunakan untuk mempercepat distribusi vaksin dan testing covid-19. Bantuan untuk pemerintah lokal/negara bagian dan proses pembukaan kembali sekolah-sekolah serta dana bantuan untuk pendidikan tinggi.

Namun tentu saja proses tersebut baru dapat dilakukan setelah pelantikan dan persetujuan dari badan legislatif harus segera dilakukan sebelum kongres disibukkan oleh sidang permakzulan. Optimisme akan pemulihan ekonomi tersebut berbalik arah setelah Ketua Fed – Jerome Powell menepis spekulasi akan perubahan kebijakan moneter saat ini dengan masih akan mempertahankan suku bunga rendah saat ini dan belum ada rencana untuk mengurangi program QE-nya. Powell menambahkan kondisi ekonomi masih jauh dari yang ditargetkan oleh Fed sehingga tidak ada alasan untuk merubah kebijakan moneter untuk sementara waktu ini hingga betul-betul tercapai target tersebut.

Sementara itu fundamental ekonomi juga masih melemah dengan laporan klaim pengangguran kembali meningkat 965K lebih banyak dari pekan sebelumnya 784K sedangkan perkiraan hanya naik sedikit 785K. Angka tersebut merupakan angka tertinggi sejak bulan agustus tahun lalu.

Meningkatnya angka pasien covid-19 menjadi penyebab utama hal ini. Total pasien penderita covid-19 di AS sudah mencapai angka 23 juta. Malam ini akan dirilis data Retail Sales, indeks manufaktur negara bagian New York, Industrial Production dan data survey dari University of Michigan.

Euro masih cenderung melemah terhadap dolar seiring dengan pernyataan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) – Christine Lagarde yang menyatakan ECB memonitor pergerakan mata uang Euro secara intensif. Ini dapat diartikan bahwa ECB mengkhawatirkan penguatan mata uang Euro dan bersiap untuk mengambil langkah yang diperlukan jika dibutuhkan.

Hal sama juga disampaikan oleh pejabat ECB lainnya – Francois Villeroy de Galhau yang juga mengkhawatirkan akan dampak negatifnya terhadap inflasi di kawasan ini. Sementara lockdown akan diperpanjang di Jerman sesuai dengan saran dari Kanselir Merkel hingga 8 sampai 10 pekan mendatang dikhawatirkan akan menjadi penyebab turunnya data pertumbuhan ekonomi di kwartal pertama tahun ini. Nota pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) bulan lalu juga tidak berpengaruh sama sekali. Malam ini akan dirilis data neraca perdagangan dan data inflasi di Prancis.


Share this Post:
Facebook Twitter Google+ Addthis

Related Posts: