Dolar Naik Tipis Menjelang Data Inflasi PCE AS; Dolar Australia Menguat Akibat Data CPI yang Tinggi
Dolar AS bergerak dalam kisaran sempit pada hari Rabu saat investor menantikan data inflasi utama AS untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve, sementara dolar Australia menguat setelah inflasi domestik yang lebih tinggi dari perkiraan memicu kembali spekulasi mengenai kenaikan suku bunga lanjutan.
Indeks Dolar AS naik tipis 0,1% ke level 98,98 pada pukul 02.05 ET (06.05 GMT), masih berada di dekat level terendah tiga bulan yang tercatat pekan lalu.
Investing.com– Dolar AS bergerak dalam kisaran sempit pada hari Rabu saat investor menantikan data inflasi utama AS untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve, sementara dolar Australia menguat setelah inflasi domestik yang lebih tinggi dari perkiraan memicu kembali spekulasi mengenai kenaikan suku bunga lanjutan.
Indeks Dolar AS naik tipis 0,1% ke level 98,98 pada pukul 02.05 ET (06.05 GMT), masih berada di dekat level terendah tiga bulan yang tercatat pekan lalu.
Dapatkan wawasan premium mengenai mata uang dan obligasi dengan berlangganan InvestingPro — kini dengan diskon 55%
Inflasi PCE AS dan simposium Jackson Hole menjadi sorotan
Investor sedang menantikan data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS—indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed—yang akan dirilis pada hari Rabu, menjelang simposium Jackson Hole akhir pekan ini.
Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap langkah kebijakan The Fed berikutnya, di tengah upaya pasar menimbang antara inflasi yang persisten dengan kekhawatiran mengenai utang pemerintah AS serta independensi bank sentral.
Program pembelian kembali utang (buyback) yang diperluas oleh Departemen Keuangan AS telah sedikit meredakan tekanan pada imbal hasil obligasi jangka panjang, namun para analis menilai langkah tersebut kurang efektif dalam mengatasi peningkatan mendasar pada utang pemerintah dan biaya bunga.
Pasangan mata uang yen Jepang (USD/JPY) turun tipis 0,1% ke level 158,97 yen, tetap berada di bawah level yang memicu intervensi bersama oleh pejabat AS dan Jepang bulan lalu.
Yen juga mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) dapat menaikkan suku bunga paling cepat pada bulan September. Survei Reuters menunjukkan sebagian besar ekonom memperkirakan BOJ akan bertindak lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya. Dolar Kanada tetap berada di bawah tekanan pada hari Rabu, dengan pasangan mata uang USD/CAD naik 0,2% ke level C$1,39.
Mata uang Kanada tersebut sempat melemah tajam pada hari Senin setelah perundingan perdagangan AS-Kanada gagal dan Washington memberlakukan tarif sebesar 50% terhadap barang-barang Kanada senilai sekitar $20 miliar.
Kanada merespons pada hari Selasa dengan menerapkan tarif balasan terhadap impor AS senilai sekitar $20 miliar, dengan besaran tarif 15%, 25%, dan 50% yang dijadwalkan mulai berlaku pada 8 September.
Dolar Australia menguat setelah data CPI bulan Juli yang tinggi memicu spekulasi kenaikan suku bunga RBA
Dolar Australia termasuk mata uang yang mencatatkan kinerja kuat, dengan pasangan AUD/USD naik 0,3% ke level $0,718—posisi tertinggi sejak awal Juni.
Data pada hari Rabu menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) bulanan naik 1,0% pada bulan Juli, melampaui perkiraan kenaikan sebesar 0,8%.
Tingkat inflasi tahunan melambat menjadi 3,5% dari sebelumnya 3,8%, namun ukuran trimmed mean—yang dipantau ketat oleh Reserve Bank of Australia (RBA)—naik 0,5% secara bulanan, sehingga inflasi inti tahunan berada di angka 3,6%.
Pasar meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga RBA untuk keempat kalinya pada tahun ini.
Mata uang Asia secara umum tidak menunjukkan arah pergerakan yang jelas seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah yang memperbaiki sentimen risiko.
Harga minyak mentah Brent turun lebih dari 2% ke kisaran $87 per barel saat Iran kembali melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz, sementara perundingan dengan AS masih mengalami kebuntuan.