Harga Emas Mendekati 4.400 Dolar di Tengah Keraguan Seputar Selat Hormuz dan Fokus Pada CPI Serta Kebijakan The Fed
Harga emas naik pada hari Rabu, bertahan di dekat level $4.400 per ons, karena ketidakpastian mengenai kesepakatan AS-Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak. Sementara itu, para investor menantikan data inflasi AS yang dapat mengubah ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve.
Pada pukul 22.12 ET (02.12 GMT), XAU/USD naik 0,7% menjadi $4.398,92 per ons, sedangkan Emas Berjangka (Gold Futures) menguat 0,4% menjadi $4.458,62. XAG/USD naik 0,6% menjadi $65,07 per ons, dan XPT/USD naik 0,5% menjadi $1.750,91.
Ketidakpastian Hormuz dongkrak harga minyak, sorotan tetap pada prospek suku bunga The Fed
Harga emas tetap tertopang di dekat level tertinggi dua bulan saat investor menilai kembali peluang kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Menteri Pertahanan Pakistan menyatakan bahwa Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan, sementara laporan mengenai diskusi lanjutan antara Oman dan Iran mengindikasikan bahwa upaya diplomasi masih terus berjalan.
Namun, Iran bersikeras bahwa jalur perairan tersebut akan tetap ditutup hingga AS memenuhi tuntutan mereka, termasuk mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan memberikan kompensasi atas kerusakan akibat serangan militer AS.
Sinyal yang beragam ini menjaga volatilitas di pasar energi. AS dan kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran melaporkan serangan terpisah terhadap pelayaran di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, sementara sebuah helikopter Angkatan Laut AS menembakkan rudal ke arah kapal kargo berbendera Panama yang mencoba melintasi Teluk Oman.
Sebuah serangan pesawat nirawak (drone) juga menyasar kilang minyak di Libya.
Bagi emas, implikasi inflasi tetap menjadi faktor utama. Harga energi yang lebih tinggi dapat mendorong Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.
CPI, pembelian oleh China, dan resistensi teknis menjadi penentu arah selanjutnya
Investor kini menantikan data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS hari Rabu, diikuti oleh data harga produsen pada hari Kamis. Angka yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi tekanan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan, sementara angka yang lebih tinggi dapat memicu kembali ekspektasi kenaikan suku bunga. Pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi agresif menjelang rilis data CPI, dengan pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan September berada di kisaran 50-50.
Sementara itu, Bank Sentral Tiongkok (People’s Bank of China) menambah cadangan emasnya selama 21 bulan berturut-turut pada bulan Juli, dengan tambahan sekitar 640.000 troy ounce sehingga totalnya mencapai 76,08 juta ounce. ETF emas asal Tiongkok juga terus menarik minat pembeli, yang memperkuat indikasi tingginya permintaan institusional dalam beberapa pekan terakhir.
Tony Sycamore, analis pasar senior di IG, menyatakan bahwa penurunan harga emas baru-baru ini dari level $4.435 mencerminkan aksi ambil untung menjelang laporan CPI, komentar bernada hawkish dari Federal Reserve, serta kembali menguatnya harga energi.
Sycamore menyebutkan bahwa saat ini emas menghadapi hambatan (resistance) tren turun di kisaran $4.460—yang ditarik dari rekor tertinggi akhir Januari di dekat level $5.602—di mana rata-rata pergerakan (moving average) 200 hari di sekitar $4.495 turut memperkuat batas atas tersebut.
Menurutnya, harga emas perlu menembus dan bertahan di atas kedua level tersebut untuk membuka jalan bagi pemulihan yang lebih kuat menuju level $5.000.