Harga Emas Turun Tipis Namun Tetaap Mendekati Level Tertinggi dalam Tiga Bulan Seiring Penurunan Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi
Harga emas turun tipis pada hari Rabu namun tetap bertahan di dekat level tertinggi tiga bulan, karena penurunan harga minyak dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) meredakan kekhawatiran inflasi, sementara Iran dan Oman membahas kemungkinan pembukaan kembali sementara Selat Hormuz.
Pada pukul 20.52 ET (00.52 GMT), XAU/USD turun 0,5% menjadi $4.637,24 per ons, membuat emas berada di jalur untuk mengakhiri tren kenaikan selama empat sesi berturut-turut, sementara harga emas berjangka (Gold Futures) tidak banyak berubah di angka $4.694,04. XAG/USD turun 0,2% menjadi $68,48 per ons, sedangkan XPT/USD turun 0,2% menjadi $1.859,14. Indeks Dolar AS tidak banyak berubah di level 98,90.
Penurunan imbal hasil dan harga minyak menjaga harga emas tetap tertopang
Emas telah mencatat kenaikan lebih dari 7% selama sepekan terakhir, menjaganya tetap dekat dengan level tertinggi tiga bulan yang dicapai pada sesi sebelumnya. Dukungan terbaru ini muncul seiring turunnya imbal hasil Treasury AS dan melandainya harga minyak, yang mengurangi sebagian tekanan inflasi yang dapat membuat Federal Reserve lebih enggan menurunkan suku bunga.
Imbal hasil Treasury turun sekitar 5 hingga 7 basis poin di seluruh kurva pada hari Selasa, sementara harga minyak turun di tengah meningkatnya optimisme bahwa konflik Timur Tengah dapat mereda. Iran dan Oman mengadakan pembicaraan mengenai pembentukan “koridor maritim gabungan sementara” yang dapat memungkinkan dimulainya kembali sebagian aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.
Penurunan harga minyak penting bagi emas karena biaya energi turut memengaruhi inflasi. Jika harga minyak naik tajam, Federal Reserve mungkin menghadapi tekanan lebih besar untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi. Hal ini dapat membebani emas karena emas tidak memberikan bunga, sehingga kurang menarik dibandingkan aset-aset yang menghasilkan imbal hasil.
Kenaikan harga baru-baru ini juga kembali menyoroti perdagangan yang didorong oleh kekhawatiran penurunan nilai mata uang akibat kebijakan utang Treasury (Treasury-driven debasement trade). Analis ANZ menyatakan bahwa Menteri Keuangan Scott Bessent tidak memberikan sinyal baru mengenai perubahan manajemen utang yang diumumkan pekan lalu, meskipun terdapat laporan yang menyebutkan bahwa Departemen Keuangan dapat menggunakan sebagian saldo kasnya untuk mendanai pembelian kembali (buyback) surat berharga lama yang memiliki imbal hasil lebih tinggi. Warsh dan data inflasi PCE menjadi ujian kebijakan berikutnya
Para investor kini mencermati dua katalis utama bagi emas: data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan rilis pada hari Rabu, serta pidato penting pertama Warsh sebagai Ketua The Fed dalam simposium Jackson Hole pada hari Jumat.
Laporan PCE akan memberikan gambaran terkini mengenai kondisi ekonomi AS dan tekanan inflasi. Presiden The Fed wilayah Boston, Susan Collins, menyatakan dukungannya untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini, dengan catatan bahwa inflasi terus bergerak menuju target 2% yang ditetapkan bank sentral.
Sementara itu, pidato Warsh di Jackson Hole dapat memberikan indikasi lebih jelas mengenai pandangan The Fed terkait keseimbangan antara inflasi yang persisten dan prospek ekonomi secara keseluruhan.
Pidato ini sangat penting karena para pelaku pasar menantikan kejelasan lebih lanjut mengenai kapan The Fed bersedia menyesuaikan kebijakan sebagai respons terhadap inflasi. Warsh sempat menuai kritik akibat kurangnya kejelasan mengenai pandangan ekonominya, sehingga penampilannya pada hari Jumat berpotensi menjadi sinyal penting bagi pasar.
Tren kenaikan harga emas baru-baru ini juga telah menghidupkan kembali strategi investasi yang didorong oleh kekhawatiran akan penurunan nilai mata uang (debasement trade), yang sebelumnya turut mendongkrak harga emas pada tahun 2025. Investor semakin beralih ke emas sebagai alternatif selain surat utang negara dan mata uang konvensional di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai defisit pemerintah, kebijakan fiskal, serta daya beli mata uang fiat.