IHSG Dibayangi Wall Street Usai Tesla Ambruk 14 Persen, Minyak Tembus US Dolar 100
Dua raksasa “Magnificent Seven” sekaligus babak belur dalam semalam. Saham Tesla ambrol 14% dan Alphabet ikut rontok 7% di bursa Wall Street, memicu koreksi tajam yang menyeret Nasdaq 100 turun 2,15% ke 25.137,69, S&P 500 melorot 1,21% ke 7.408,30, dan Dow Jones tergelincir 0,97% ke 51.711,65 — hari terburuk Wall Street dalam sebulan terakhir. Pemicunya datang dari dua arah sekaligus: laporan keuangan yang mengecewakan pasar dan harga minyak mentah yang untuk pertama kalinya tahun ini menembus level psikologis US$100 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
IHSG Sudah Duluan “Deg-degan” Kemarin
Bursa Jakarta sebenarnya sudah memberi bocoran soal sentimen global yang memanas ini sehari sebelumnya. Kamis (23/7/2026), IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.454,30 di sesi pagi berkat lonjakan saham properti dan energi, tapi tekanan jual yang deras di sektor keuangan menjelang penutupan membuat seluruh penguatan itu terkikis habis. Indeks akhirnya ditutup melemah 19,17 poin atau 0,30% ke 6.315,31, dengan Bumi Resources Tbk (JK:BUMI) tetap jadi bintang naik 8,93% ke Rp183, sementara Akr Corporindo Tbk (JK:AKRA) longsor 5,05% ke Rp1.410 dan Bank Central Asia Tbk (JK:BBCA) turun 3,46% ke Rp6.275.
Koreksi tersebut terjadi hanya beberapa jam sebelum Wall Street mencatatkan hari terburuknya dalam sebulan terakhir pada perdagangan Kamis waktu Amerika Serikat.
Alphabet dan Tesla Jadi Korban “Capex Fever”
Alphabet Inc Class A (NASDAQ:GOOGL) sebenarnya membukukan kinerja kuartalan yang solid, dengan pendapatan cloud melonjak 82%. Namun perusahaan induk Google itu juga menaikkan proyeksi belanja modal (capex) tahun ini menjadi US$195-205 miliar, melambung dari perkiraan sebelumnya US$180-190 miliar. Saham Alphabet longsor merespons kenaikan proyeksi belanja tersebut, meski laporan labanya sendiri di atas ekspektasi pasar.
Dua raksasa “Magnificent Seven” sekaligus babak belur dalam semalam. Saham Tesla ambrol 14% dan Alphabet ikut rontok 7% di bursa Wall Street, memicu koreksi tajam yang menyeret Nasdaq 100 turun 2,15% ke 25.137,69, S&P 500 melorot 1,21% ke 7.408,30, dan Dow Jones tergelincir 0,97% ke 51.711,65 — hari terburuk Wall Street dalam sebulan terakhir. Pemicunya datang dari dua arah sekaligus: laporan keuangan yang mengecewakan pasar dan harga minyak mentah yang untuk pertama kalinya tahun ini menembus level psikologis US$100 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
IHSG Sudah Duluan “Deg-degan” Kemarin
Bursa Jakarta sebenarnya sudah memberi bocoran soal sentimen global yang memanas ini sehari sebelumnya. Kamis (23/7/2026), IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.454,30 di sesi pagi berkat lonjakan saham properti dan energi, tapi tekanan jual yang deras di sektor keuangan menjelang penutupan membuat seluruh penguatan itu terkikis habis. Indeks akhirnya ditutup melemah 19,17 poin atau 0,30% ke 6.315,31, dengan Bumi Resources Tbk (JK:BUMI) tetap jadi bintang naik 8,93% ke Rp183, sementara Akr Corporindo Tbk (JK:AKRA) longsor 5,05% ke Rp1.410 dan Bank Central Asia Tbk (JK:BBCA) turun 3,46% ke Rp6.275.
Koreksi tersebut terjadi hanya beberapa jam sebelum Wall Street mencatatkan hari terburuknya dalam sebulan terakhir pada perdagangan Kamis waktu Amerika Serikat.
Alphabet dan Tesla Jadi Korban “Capex Fever”
Alphabet Inc Class A (NASDAQ:GOOGL) sebenarnya membukukan kinerja kuartalan yang solid, dengan pendapatan cloud melonjak 82%. Namun perusahaan induk Google itu juga menaikkan proyeksi belanja modal (capex) tahun ini menjadi US$195-205 miliar, melambung dari perkiraan sebelumnya US$180-190 miliar. Saham Alphabet longsor merespons kenaikan proyeksi belanja tersebut, meski laporan labanya sendiri di atas ekspektasi pasar.