IHSG Naik 1,74%, Semua Mata Kini Tertuju pada Keputusan BI Rate
IHSG ditutup menguat 1,74% ke level 6.340,02 pada perdagangan Selasa (21/7/2026), didorong rotasi dana asing masuk ke saham-saham Indonesia yang dinilai memiliki valuasi menarik. Momentum ini membuat indeks telah mengakumulasi kenaikan lebih dari 10% sepanjang Juli 2026, setelah sebelumnya terkoreksi sekitar 28% sejak awal tahun.
Saham-saham berkapitalisasi besar seperti Amman Mineral Internasional Tbk PT (JK:AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (JK:CUAN), dan Darma Henwa Tbk (JK:DEWA) menjadi pendorong utama indeks pada sesi Selasa, dengan mayoritas sektor mencatat kenaikan — termasuk energi, barang baku, infrastruktur, dan properti. Total volume perdagangan mencapai 50,78 miliar saham dengan nilai transaksi Rp21,30 triliun. Sebanyak 421 saham menguat, sementara 205 melemah dan 169 stagnan.
Naik atau Tahan? Keputusan BI Rate Rabu Ini Jadi Penentu Arah
Satu pertanyaan besar menggantung di atas pasar menjelang penutupan Rabu (22/7/2026): apakah Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga, atau justru menahannya demi menjaga momentum pemulihan ekonomi?
Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung selama dua hari, yakni 21–22 Juli 2026, menjadi katalis terbesar hari ini. Pasar terbelah dalam mengantisipasi keputusan ini: dari 14 institusi yang disurvei CNBC Indonesia, delapan memproyeksikan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,00%, sementara enam sisanya memperkirakan suku bunga dipertahankan di 5,75%. Mika Martumpal, Ekonom CIMB Niaga, menyebut bahwa kenaikan suku bunga diperlukan untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah risiko geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah.
Untuk perdagangan hari ini, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan level support di 6.306 dan resistance di 6.355. Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda memproyeksikan support di kisaran 6.240-6.250 dan resistance di 6.390-6.400.
Sentimen positif dari Wall Street turut memberikan angin segar. S&P 500 naik 0,9% ke 7.509,20, Dow Jones Industrial Average naik 0,7% ke 52.224,64, dan Nasdaq composite naik 1,3% ke 25.837,21 pada penutupan Selasa (21/7/2026), dipimpin saham-saham semikonduktor dan kecerdasan buatan seperti Nvidia dan Micron Technology, dilaporkan Washington Post.
Di sisi domestik, sentimen positif juga datang dari keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil, serta optimisme atas pembentukan Pusat Keuangan Internasional Indonesia (PFII) dan rencana penerbitan Panda Bond berperingkat AAA/Stable dari lembaga pemeringkat China.
Rotasi dana asing ke pasar Indonesia menjadi salah satu narasi dominan di balik reli Juli ini. David Chao, Asia-Pacific Global Market Strategist Invesco Singapura, dalam laporan Reuters menyebut bahwa pihaknya tengah mengalihkan sebagian keuntungan dari Korea Selatan untuk membeli saham Indonesia. Chao menilai Indonesia kemungkinan masih menjadi kisah pertumbuhan makro yang paling kurang dilirik di kawasan.
Meski demikian, sejumlah risiko tetap membayangi. Harga minyak mentah Brent mendekati level 92 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam lima minggu, naik tajam dari kisaran 72 dolar pada awal Juli, akibat berlanjutnya konflik AS-Iran. Kenaikan harga energi ini turut mendorong imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke level 4,60%, yang berpotensi menekan arus modal ke pasar berkembang. Menurut Herditya Wicaksana, analis MNC Sekuritas, investor masih perlu mencermati dampak memanasnya konflik di Timur Tengah terhadap harga komoditas dan nilai tukar rupiah.
Validasi thesis investasi atau mengantisipasi dampak keputusan BI Rate terhadap portofolio.