Indeks Chip Dunia Masuk Bear Market, IHSG Justru Menguat 1,1 Persen
Philadelphia Semiconductor Index secara resmi memasuki bear market pada Jumat 17 Juli 2026, setelah turun 1,6% pada hari itu dan secara kumulatif jatuh 20% dari rekor penutupan tertingginya pada 22 Juni 2026 — menjadikan peristiwa ini salah satu koreksi sektor paling tajam tahun ini. Di tengah kekacauan itu, IHSG justru ditutup menguat 1,1% pada hari yang sama, berbanding terbalik dengan hampir seluruh bursa kawasan Asia.
Aksi jual berlangsung tiga hari berturut-turut mulai 15 hingga 17 Juli 2026, dipicu oleh kekhawatiran yang semakin dalam soal keberlanjutan belanja modal kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan teknologi besar. Meski TSMC menaikkan proyeksi belanja modal 2026 menjadi US$60–64 miliar, dan ASML telah lebih dulu menaikkan proyeksi penjualannya, investor tetap melepas saham chip secara masif karena menilai valuasi sudah terlampau tinggi setelah reli panjang.
Saham-saham yang paling terekspos terhadap guncangan ini adalah perusahaan semikonduktor besar yang tercatat di bursa-bursa Asia. Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), yang mencatat laba bersih kuartal kedua dengan lonjakan 77% (sebuah rekor), tetap dihajar aksi jual, dengan sahamnya di Taipei turun hingga 4,5% pada hari yang sama.
Kejatuhan Pasar Chip Global dan Wall Street
Indeks Bloomberg untuk saham chip Asia turun lebih dari 5% pada 17 Juli saja, membawa penurunan kumulatif menjadi sekitar 19% dari puncak Juni. Bursa Asia secara keseluruhan terpukul lebih parah dibanding Eropa dan Amerika Serikat. Indeks MSCI Asia-Pasifik ex-Jepang melemah 2,7%, sementara Nikkei 225 Jepang anjlok 4%, menempatkannya 12% di bawah puncak terbarunya. Indeks saham Taiwan dan Jepang sempat menyentuh penurunan intraday hingga 6%, menurut Reuters. Di Korea Selatan, SK Hynix dilaporkan turun lebih dari 9% sehari sebelumnya pada 16 Juli, memimpin pelemahan KOSPI, sementara Samsung Electronics juga mencatat kerugian signifikan.
Takamasa Ikeda, Senior Portfolio Manager di GCI Asset Management Tokyo, dalam wawancara dengan Reuters menyatakan bahwa Nikkei sangat berkorelasi dengan indeks SOX, sehingga koreksi ini bisa diantisipasi, hanya saja datang lebih awal dari perkiraan. Ia menambahkan bahwa pasar mulai mempertanyakan apakah perusahaan hyperscaler mampu menghasilkan imbal hasil yang sepadan dengan investasi masif mereka di infrastruktur AI.
Kekhawatiran itu diperparah oleh peluncuran model AI open-weight terbesar di dunia oleh startup China Moonshot, yakni Kimi K3, yang diklaim mampu menyamai performa model frontier milik Anthropic. Kemunculan model ini memperbarui kecemasan investor soal ancaman terhadap dominasi chip AS di era AI.
Di Wall Street pada hari yang sama, Dow Jones turun 0,77% ke 52.146,42 poin, S&P 500 melemah 1,01% ke 7.457,69 poin, dan Nasdaq Composite tergelincir 1,40% ke 25.520,24 poin. Untuk sepekan, Nasdaq melemah 2,9% dan S&P 500 kehilangan 1,55%, berdasarkan data Reuters. Michael James, Managing Director dan Equity Sales Trader di Rosenblatt Securities, dalam pernyataan yang dikutip Reuters menyebut bahwa pasar masih berada dalam kondisi sangat emosional dan didorong sentimen, serta memperingatkan bahwa kondisi semacam ini tidak akan menumbuhkan kepercayaan di awal pekan.
James Ooi, Market Strategist Tiger Brokers, dalam laporan Bloomberg via Yahoo Finance menyebut bahwa aksi jual ini bisa menandai pergeseran sentimen terhadap saham chip setelah reli besar sepanjang tahun. Sebagian investor, menurut Ooi, mulai mempertanyakan apakah valuasi saat ini masih menyisakan ruang kenaikan yang memadai, bahkan di tengah fundamental laba yang solid.
IHSG Tampil sebagai Pengecualian di Tengah Badai
Di tengah kerusuhan itu, IHSG tampil sebagai pengecualian yang mencolok. Indeks ditutup naik 1,1% pada penutupan sesi 17 Juli, didorong oleh aliran dana asing masuk dan penguatan saham perbankan. Kekuatan relatif IHSG mencerminkan komposisi indeks yang kurang terekspos langsung ke sektor semikonduktor global dibanding indeks-indeks regional lainnya.
Ke depan, dua katalis utama akan menentukan arah sentimen sektor ini. Laporan keuangan Alphabet dan sejumlah hyperscaler lainnya dijadwalkan rilis dalam pekan 20 Juli 2026; outlook pengeluaran AI yang kuat dari para pengguna chip memori besar itu diharapkan bisa membalikkan tekanan yang menghantam sektor semikonduktor. Selain itu, IPO CXMT, produsen chip memori terbesar China yang oversubscribe 570 kali senilai US$8,6 miliar, dijadwalkan berlangsung pada 27 Juli 2026 dan akan menjadi barometer selera risiko investor global terhadap sektor chip pasca-selloff ini.
Saham Lokal yang Relevan dengan Ekosistem Infrastruktur AI
Meski tren global menekan sektor chip, arus belanja infrastruktur AI tetap relevan bagi investor IHSG. Sejumlah saham lokal dinilai berpotensi menangkap peluang dari tren ini, antara lain:
- Telkom Indonesia (Persero) Tbk PT (JK:TLKM) — sebagai operator pusat data dan infrastruktur jaringan terbesar nasional, Telkom berada di lini terdepan untuk menangkap permintaan layanan cloud dan komputasi AI domestik.
- DCI Indonesia Tbk PT (JK:DCII) — operator pusat data kolokasinya menjadi tulang punggung infrastruktur cloud dan AI bagi korporasi besar maupun hyperscaler yang beroperasi di Indonesia.
- Barito Renewables Energy PT Tbk (JK:BREN) — pertumbuhan pusat data bertenaga AI membutuhkan pasokan energi bersih dalam jumlah besar; BREN selaku pengembang energi terbarukan terbesar nasional diuntungkan oleh tren ini.
- Perusahaan Gas Negara Persero (JK:PGAS) — sebagai penyedia infrastruktur energi utama, PGAS berpotensi mendukung kebutuhan pasokan daya bagi kawasan industri dan pusat data yang terus berkembang.
- Surya Semesta Internusa Tbk (JK:SSIA) — pengembang kawasan industri dan lahan yang diproyeksikan menjadi lokasi pembangunan pusat data serta fasilitas semikonduktor di Indonesia.
- Elang Mahkota Teknologi Tbk (JK:EMTK) — induk grup Emtek yang membawahi aset digital dan media, termasuk platform streaming dan teknologi yang berpotensi mengadopsi solusi AI generatif.