Jelang Perdagangan Awal Pekan, Investor Tunggu Berita Sidang Senat AS
Indeks Dolar AS melemah pada perdagangan akhir pekan lalu (7/11) karena tekanan fundamental AS. Sementara itu, Harga emas bergerak naik moderat karena kembali menerima aliran safehaven.
Shutdown yang berkepanjangan mengancam ekonomi AS lumpuh karena PHK Masal dan terhentinya aktivitas ekonomi diberbagai sektor.
Key Highlights
- Shutdown AS telah memasuki penutupan terlama dalam sejarah politik Amerika Serikat – melebihi shutdown terlama sebelumnya pada tahun 2019. Penutupan pemerintahan telah memasuki hari ke-40 pada 9 November 2025 dan akan melamauinya besok jika pemerintah gagal mencapai kesepakatan.
- Sejauh ini, Washington masih terjebak dalam kebuntuan, tanpa tanda-tanda kesepakatan untuk mengakhiri penutupan pemerintah yang sedang berlangsung.
- Penasihat Ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, mengatakan kepada CNN bahwa penutupan tersebut merugikan perekonomian lebih dari yang mereka perkirakan, mengantisipasi penurunan pertumbuhan PDB sebesar 1 hingga 1,5% pada kuartal ini.
- Peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada bulan Desember adalah sebesar 68% naik 63% pada minggu lalu, prospeknya naik akibat data PHK melonjak ke level tertinggi dalam 20 tahun minggu lalu.
- Permintaan emas dari bank sentral terus meningkat selama bulan Oktober. Data World Gold Council (WGC) memperlihatkan bahwa ETF Emas mencatat arus masuk sebesar 54,9 ton pada bulan Oktober, dipimpin oleh permintaan yang kuat dari Amerika Utara (+47,2 ton) dan Asia (+44,8 ton), sementara Eropa melihat arus keluar sebesar 37,4 ton.
Market Movement
Pada Jumat (7/11), Harga emas (spot) berakhir menguat – menguji kembali titik $4,000 per ons.
Dipasar sot, harga emas mencatatkan kenaikan sebesar $22.55 atau 0.57% berakhir pada level $4,000.07 per ons , setelah uji tertinggi $4,027 dan terendah $3,973.
Dengan latar politik AS, prospek jangka pendek emas tampak ‘netral’ hingga cenderung ‘bearish’. Faktor pendorong kenaikan adalah prospek shutdown AS yang akan mencatatkan sejarah baru.
Faktor pendorong penurunan adalah shutdown AS yang diperkirakan dapat segera berakhir setelah penutupan berkepanjangan karena berpotensi memicu kerusakan sistem pemerintah.
Dalam jangka panjang, faktor seperti permintaan bank sentral dan ketidakpastian geopolitik masih tetap ada.
Pada saat yang sama, Emas berjangka (DEC) mencatatkan kenaikan sebesar $18.80 atau 0.47% berakhir pada level $4,009.80 per ons di Divisi Comex, setelah uji terendah $3,981 dan tertinggi $4,035.
Indeks Dolar AS berakhir melemah sebanyak 15 poin atau 0.15% berakhir pada level 99.55. Dipasar rival utama Dolar, sekelompok matauang berisiko berakhir menguat, merespon pelemahn Dolar.
Berikut adalah posisi matauang pada penutupan perdaganan Jumat, 7 November 2025,
- AUDUSD : 0.64925 , +14 / +0.22%
- EURUSD : 1.15614 , +16 / +0.14%
- GBPUSD : 1.31571 , +21 / +0.16%
- NZDUSD : 0.56235 , -10 / -0.17%
- USDJPY : 153.405 , +35 / +0.23%
- USDCAD : 1.40404 , -73 / -0.52%
- USDMXN : 18.44670 , -1349 / -0.73%
- USDCHF : 0.80498 , -10 / -0.13%
- USDCNH : 7.11790 , +25 / +0.04%
Sentimen
Jelang perdagangan Asia awal minggu ini, pasar akan menantikan kejutan dalam Sidang Senate AS pada Minggu siang waktu AS (12:30 ET / 12:30 AM).
Pasar menantikan kejutan besar, apakah Pemerintahan AS akan kembali dibuka setelah penutupan selama 40 hari terakhir sejak 1 Oktober.