Kospi dan Nikkei 225 Sedikit Menguat karena Harga Minyak dan Kekhawatiran Fed Membatasi Reli Asia
Bursa Asia sedikit menguat pada hari Jumat, mendapat dukungan dari kenaikan Wall Street semalam, tetapi kenaikan tersebut terkendali karena investor mempertimbangkan gencatan senjata Timur Tengah yang rapuh, harga minyak yang lebih tinggi, dan penundaan lebih lanjut ekspektasi penurunan suku bunga pertama Federal Reserve.
Suasana di seluruh kawasan lebih cenderung kehati-hatian daripada keyakinan, dengan para pedagang enggan untuk meningkatkan risiko secara agresif sementara ketegangan di sekitar Lebanon dan Selat Hormuz tetap belum terselesaikan.
Kospi Korea Selatan naik 1,68%, dengan Kosdaq (indeks saham berkapitalisasi kecil) juga naik 1,14%, sementara Nikkei 225 Jepang melonjak 1,75%, mencerminkan sentimen investor yang optimis.
Sebaliknya, S&P/ASX 200 Australia sedikit turun 0,31%, di bawah tren regional. Saham-saham Tiongkok sedikit lebih tinggi, dengan CSI 300 naik 0,6% dan Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,88%.
Pesan mendasar dari pasar cukup jelas: saham-saham bersedia pulih sedikit setelah kenaikan sesi sebelumnya, tetapi tidak cukup banyak perubahan di bidang geopolitik untuk membenarkan reli pemulihan yang lebih luas.
Minyak mentah Brent menguat karena lalu lintas kapal tanker melalui Hormuz tetap terbatas, menurut sumber pasar, sehingga kekhawatiran tetap ada bahwa gangguan apa pun pada jalur pelayaran dapat berdampak pada harga energi, ekspektasi inflasi, dan kebijakan bank sentral.
Kontrak berjangka saham AS sedikit berubah dalam perdagangan Asia setelah S&P 500 naik 0,6% pada sesi sebelumnya.
Tren yang lebih stabil tersebut membantu saham-saham Asia menghindari penurunan yang lebih dalam, tetapi tidak secara signifikan memperbaiki sentimen.
Investor justru dihadapkan pada dua kekuatan yang saling bertentangan: harapan bahwa diplomasi dapat mencegah konflik regional yang lebih luas, dan kekhawatiran bahwa berkurangnya aktivitas pengiriman melalui salah satu titik rawan minyak terpenting di dunia akan membuat pasar komoditas tetap ketat.
Kenaikan harga minyak membatasi kenaikan pasar secara keseluruhan
Kenaikan harga Brent merupakan salah satu sinyal pasar yang paling jelas pada hari Jumat.
Meskipun harga minyak yang lebih tinggi mendukung produsen energi dan membantu beberapa saham yang terkait dengan sumber daya alam berkinerja lebih baik, hal itu juga membatasi kenaikan ekuitas secara keseluruhan dengan menghidupkan kembali kekhawatiran tentang prospek inflasi.
Selat Hormuz mengangkut sekitar 20% aliran minyak global, sehingga pembatasan sebagian pun menjadi sumber utama kecemasan pasar.
Dinamika tersebut membuat gambaran regional menjadi beragam.
Saham-saham energi dan komoditas mendapat dukungan dari harga minyak mentah yang lebih tinggi, sementara sektor-sektor yang lebih sensitif terhadap pertumbuhan kesulitan untuk membangun momentum.
Investor tampaknya bersedia untuk melakukan rotasi secara selektif, tetapi tidak untuk sepenuhnya mengambil risiko.
Gencatan senjata yang rapuh tetap menjadi risiko utama
Bagi pasar, gencatan senjata masih lebih tepat digambarkan sebagai jeda daripada resolusi.
Investor menyambut baik tanda-tanda bahwa diplomasi antara AS dan Iran dapat berlanjut dalam beberapa minggu mendatang; namun, kekhawatiran yang berulang tentang Lebanon dan gangguan pengiriman menunjukkan bahwa gencatan senjata tetap rentan.
Bukti apa pun yang menunjukkan bahwa serangan kembali meningkat, atau bahwa rute kapal tanker semakin sulit dibuka kembali, dapat dengan cepat mendorong harga minyak lebih tinggi dan membalikkan pemulihan moderat di pasar saham.
Hal itu membantu menjelaskan mengapa pergerakan terbaru di pasar saham relatif terkendali.
Para pedagang memperlakukan gencatan senjata sebagai penstabil jangka pendek, bukan sebagai konfirmasi bahwa risiko geopolitik telah mereda.
Taruhan pemotongan suku bunga Fed semakin jauh ke depan
Pergeseran penting lainnya datang dari pasar suku bunga AS. Setelah data ekonomi terbaru, kontrak berjangka menunjukkan bahwa pemotongan suku bunga pertama Fed baru akan terjadi pada April 2027.
Hal itu menandai penyesuaian harga lebih lanjut dari jalur kebijakan dan menggarisbawahi bagaimana pertumbuhan AS yang tangguh dan inflasi yang tinggi terus membentuk ekspektasi pasar global.
Bagi aset Asia, hal itu penting karena perubahan kebijakan Fed yang lebih lambat cenderung mendukung dolar, menaikkan imbal hasil obligasi pemerintah, dan memperketat kondisi keuangan.
Bahkan ketika saham regional naik, kenaikan tersebut mencerminkan kelegaan atas tidak adanya eskalasi langsung daripada keyakinan bahwa kondisi moneter akan segera mereda.