Pasar Asia Merosot Setelah Wall Street Anjlok karena Aksi Jual Saham Teknologi Semakin Dalam
Bursa Asia jatuh pada 8 Juni setelah aksi jual tajam saham teknologi AS mengguncang pasar global, sementara kenaikan harga minyak dan meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat menambah kekhawatiran investor.
Indeks Kospi Korea Selatan anjlok lebih dari 8 persen sebelum perdagangan dihentikan sementara, membalikkan sebagian dari kenaikan kuatnya tahun ini. Nikkei Jepang turun 4,2 persen, sementara indeks saham Asia MSCI turun 3,4 persen karena aksi jual semakin intensif di seluruh pasar regional.
Saham teknologi dan semikonduktor termasuk yang paling banyak merugi. Samsung Electronics turun hingga 11 persen, SK Hynix turun 10 persen, dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. turun 5,7 persen, mengikuti kerugian besar pada saham chip di Wall Street.
Pelemahan ini terjadi setelah penurunan tajam di pasar AS pada hari Jumat. Indeks Nasdaq 100 anjlok 4,8 persen, sementara S&P 500 turun 2,6 persen. Indeks Semikonduktor Philadelphia merosot 10 persen karena investor menarik diri dari saham teknologi di tengah kekhawatiran atas valuasi dan aksi ambil untung setelah reli yang berkepanjangan.
Pasar obligasi juga berada di bawah tekanan setelah data pekerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun acuan naik menjadi 4,55 persen karena para pedagang meningkatkan taruhan pada potensi kenaikan suku bunga akhir tahun ini.
Sementara itu, harga minyak melonjak karena ketegangan di Timur Tengah meningkat. Minyak mentah Brent naik 3,8 persen menjadi $95,60 per barel, menambah kekhawatiran tentang inflasi dan potensi dampak biaya energi yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan global.
Dolar menguat terhadap sebagian besar mata uang utama karena investor mencari aset yang lebih aman di tengah meningkatnya ketidakpastian. Para pelaku pasar kini mengamati dengan saksama data inflasi AS yang akan datang dan pertemuan kebijakan Federal Reserve pada 16-17 Juni untuk mendapatkan sinyal lebih lanjut mengenai arah suku bunga.
Penurunan luas di seluruh pasar saham, obligasi, dan mata uang menandai salah satu kemunduran paling tajam bagi pasar global dalam beberapa bulan terakhir, karena investor menilai kembali prospek pertumbuhan, inflasi, dan kebijakan moneter.