Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed, Lonjakan Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi Jepang
Kontrak berjangka (futures) saham AS tidak banyak berubah pada Selasa pagi karena investor tetap berhati-hati terhadap prospek kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve dan ketegangan yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran.
Harga minyak melanjutkan kenaikannya karena ketegangan di sekitar Selat Hormuz mengancam pasokan energi, sementara kenaikan imbal hasil obligasi di Jepang menambah tekanan pada pasar global menjelang rilis data ketenagakerjaan penting AS.
- Kontrak berjangka stabil saat investor menanti data ketenagakerjaan
Kontrak berjangka saham AS tidak banyak berubah pada Selasa pagi setelah Wall Street turun pada sesi sebelumnya; kenaikan imbal hasil obligasi Treasury dan harga minyak yang lebih tinggi telah menekan aset-aset yang sensitif terhadap risiko.
Pada pukul 03.40 waktu setempat (ET), kontrak berjangka S&P 500, Nasdaq 100, dan Dow terpantau cenderung datar.
Investor juga mempertahankan sikap hati-hati menjelang laporan nonfarm payrolls hari Jumat, yang dapat memberikan petunjuk penting mengenai langkah Federal Reserve selanjutnya terkait suku bunga.
2. Imbal hasil obligasi Jepang capai level tertinggi dalam 30 tahun
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun (acuan) naik melampaui 3% pada hari Selasa untuk pertama kalinya sejak September 1996, mencerminkan kekhawatiran yang meningkat mengenai inflasi, belanja pemerintah, dan potensi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Bank of Japan (BOJ).
Imbal hasil tersebut telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak awal 2024 seiring langkah BOJ meninggalkan kebijakan moneter ultra-longgar yang telah lama diterapkan.
Kenaikan biaya energi akibat konflik AS-Iran menambah kekhawatiran inflasi di Jepang, sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa BOJ mungkin akan kembali menaikkan suku bunga.
Bagi investor, perkembangan ini memiliki dampak yang melampaui Jepang. Imbal hasil Jepang yang lebih tinggi dapat membuat obligasi domestik lebih menarik bagi investor Jepang dan berpotensi mengurangi permintaan terhadap aset luar negeri, termasuk obligasi pemerintah dan saham AS.
Hal ini menjadi tanda lain bahwa investor global sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan suku bunga yang lebih tinggi setelah bertahun-tahun menikmati era uang murah.
3. Harga minyak naik saat Trump mengancam serangan lanjutan terhadap Iran
Harga minyak melanjutkan kenaikannya pada Selasa karena Presiden Donald Trump mengancam akan melakukan tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran, sehingga memicu kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan pada pasokan energi yang melewati Selat Hormuz. Pada pukul 01.02 ET, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 1,1% menjadi $91,51 per barel, sementara kontrak berjangka WTI naik 1,4% menjadi $86,99. Kedua kontrak tersebut sempat melonjak hampir 3% pada sesi sebelumnya.
Eskalasi terbaru ini terjadi menyusul serangan AS terhadap target militer Iran di Pulau Larak dan serangan rudal balasan Iran terhadap fasilitas militer AS di Yordania.
Bagi investor ritel, kenaikan harga minyak menciptakan situasi yang sulit. Harga minyak mentah yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya bensin, transportasi, dan produksi, sehingga mendorong inflasi lebih tinggi. Hal ini dapat menyulitkan The Fed untuk menurunkan suku bunga dan memberikan tekanan tambahan pada pasar saham.
- Risiko pelayaran di Selat Hormuz tetap tinggi
Selat Hormuz tetap menjadi pusat kekhawatiran investor karena konflik AS-Iran mengancam salah satu jalur pengiriman energi terpenting di dunia.
Jalur perairan ini menjadi jalur bagi pengiriman minyak mentah dan produk minyak bumi dalam jumlah besar dari produsen utama di Timur Tengah. Oleh karena itu, gangguan yang berkepanjangan dapat memperketat pasokan global dan mendorong harga naik secara signifikan.
Risiko terhadap pelayaran komersial mengemuka pada hari Senin ketika sebuah kapal tanker dihantam oleh tiga proyektil tak dikenal saat keluar dari selat tersebut, menurut badan United Kingdom Maritime Trade Operations.
Presiden Trump telah mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran menyusul eskalasi terbaru ini, yang memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat semakin memanas.
Bagi investor, Selat Hormuz pada dasarnya merupakan penghubung antara konflik geopolitik dan ekonomi global. Jika pelayaran terganggu dalam jangka waktu yang lama, harga energi yang lebih tinggi dapat berdampak pada inflasi, biaya perusahaan, dan pengeluaran konsumen.