Yen Melanjutkan Penguatan Seiring Menguatnya Spekulasi Kenaikan Suku Bunga BOJ
Yen kembali mencatatkan kenaikan tajam pada hari Selasa, mencapai level tertinggi baru dalam tujuh bulan terakhir, seiring meningkatnya keyakinan investor bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga pada akhir bulan ini. Selain itu, revisi naik terhadap data pertumbuhan ekonomi Jepang kuartal kedua turut memperkuat momentum mata uang tersebut.
Nilai tukar yen terhadap dolar AS (USD/JPY) turun 0,8% ke level 153,18 yen pada pukul 02.50 GMT, setelah sempat menyentuh level terendah di 152,87 pada awal hari—level terendah sejak 18 Februari.
Pasangan mata uang ini turun 1,2% pada sesi sebelumnya dan telah melemah hampir 4% dari kisaran 160 yen pada awal pekan lalu, seiring langkah para pedagang menutup posisi short yen dan melepas carry trade.
Pasar semakin memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga BOJ dalam pertemuan tanggal 17-18 September mendatang.
Revisi pertumbuhan ekonomi Jepang kuartal kedua yang lebih baik dari perkiraan serta kenaikan upah riil sebesar 2,4% pada bulan Juli telah memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral dapat mempercepat pengetatan kebijakan moneter.
Ekonomi Jepang tumbuh sebesar 1,4% secara tahunan pada kuartal April-Juni, naik dari estimasi awal sebesar 1,1%, sementara penurunan belanja bisnis tercatat lebih rendah daripada laporan sebelumnya. Data ini semakin mendukung pandangan bahwa perekonomian mampu bertahan menghadapi biaya pinjaman yang lebih tinggi.
Pasar kini memperhitungkan kemungkinan besar kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%; Takuji Aida, penasihat ekonomi Perdana Menteri Sanae Takaichi, juga memprediksi adanya kenaikan pada bulan September. Aida memperkirakan akan ada kenaikan lanjutan setelahnya, yang semakin memperkuat pergeseran ekspektasi ke arah kebijakan yang lebih ketat (hawkish).
Sementara itu, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan pada hari Selasa bahwa Tokyo akan berupaya menjaga stabilitas pasar valuta asing. Katayama mengatakan bahwa Jepang dan AS tetap memiliki pandangan yang selaras mengenai kebijakan mata uang dan akan terus berkomunikasi secara erat guna memastikan pergerakan nilai tukar yang tertib.
Ia menegaskan bahwa sikap tersebut tidak berubah pasca-intervensi terkoordinasi kedua negara pada bulan Juli serta diskusi yang baru-baru ini dilakukannya dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Penguatan yen juga didorong oleh ekspektasi bahwa investor Jepang akan merepatriasi dana dari luar negeri serta adanya pembatalan posisi carry trade—praktik di mana investor meminjam dana dalam yen dengan bunga rendah untuk membeli aset berimbal hasil lebih tinggi di tempat lain.
Sementara itu, dolar tetap berada di bawah tekanan menjelang rilis data harga konsumen AS yang dijadwalkan pada pekan ini.
Kenaikan harga minyak dan kembali memanasnya ketegangan di Timur Tengah dapat mempersulit prospek bagi kedua bank sentral karena menambah tekanan inflasi. Harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$97 per barel pada hari Selasa setelah Iran mengancam akan melakukan pembalasan terhadap kepentingan energi AS di kawasan Teluk.