Ancaman Perlambatan Ekonomi China, Tekan Perdagangan Pasar Keuangan Global
Indeks Dolar Amerika diperdagangkan menguat disesi awal perdagangan pekan ini (21/11), capai tertinggi 108 – menandai keuntungan dalam tiga sesi perdagangan beruntun setelah spekulasi tentang kenaikan besar suku bunga Fed kembali menggairahkan permintaan pasar pada Dolar Amerika.
Pernyataan Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly memberikan dukungan pada Dolar setelah terdapat keraguan pada keputusan yang akan diambil pada pertemuan Desember dikalangan pengambil kebijakan dan menegaskan bahwa bunga dapat naik melebihi 5% jika data inflasi tidak menunjukkan perlambatan lebih lanjut.
Disisi lain, kekhawatiran tentang covid19 kembali menguntungkan Dolar dan menekan aset berisiko setelah Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan dua kematian pasien Covid-19 di Beijing dan melaporkan lebih dari 26.000 penularan baru pada hari Minggu. Perintah tinggal di rumah dikeluarkan di berbagai wilayah, memicu kekhawatiran tentang potensi perlambatan ekonomi global di tengah kebijakan covid yang ketat di China sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Dunia.
Dolar menyelesaikan sesi perdagangan Senin (21/11) dengan keuntungan sekitar 86 poin atau 0.80% berakhir pada level 107.82, setelah diperdagangkan hingga tertinggi 108 dan terendah 106.88.
Matauang
Sekeranjang matauang utama rival Dolar tertekan turun ditengah kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global dan pulihnya dolar karena kembalinya permintaan sebagai safehaven utama ditengah ketidakpastian ekonomi.
EUR/USD menyelesaikan perdagangan Senin (21/11) dengan kerugian sekitar 82 poin atau 0.80% berakhir pada level 1.0239, setelah uji tertinggi 1.0332 dan terendah 1.0222. Penurunan dipertajam setelah PPI Jerman secara tak terduga terkontraksi 4.20% (MoM) selama peridode Oktober dan Angka tahunan naik sebesar 34,5%, jauh di bawah perkiraan 41.5% dan 45,8% data sebelumnya. Ini adalah tanda pertama meredanya inflasi di UE.
GBP/USD menyelesaikan perdagangan Senin (21/11) dengan kerugian sekitar 62 poin atau 0.52% berakhir pada level 1.1821, setelah uji tertinggi 1.1900 dan terendah 1.1778. AUD/USD mencatatkan pelemahan tajam terkait dengan penurunan tajam harga minyak mentah dunia dan kekwatiran tentang lonjakan kasus covid19 di China. AUD/USD berakhir melemah sebanyak 67 poin atau 1.01% berada pada level 0.6603, setelah uji tertinggi 0.6682 dan terendah 0.6584.
USD/JPY menjadi pemain terburuk dipasar rival utama Dolar. Yen melemah sekitar 174 poin atau 1.22% terhadap Dolar ke level 142.10. Sementara USD/CHF naik sekitar 45 poin atau 0.47% melemah pada level 0.9590.
Emas
Harga emas turun untuk hari keempat berturut-turut dan menetap dibawah $1.750 per troy ons karena gejolak ekonomi China sebagai negara konsumen komoditas terbesar di Dunia.
Dipasar spot, harga emas diperdagangkan melemah sebanyak $12.54 atau 0.72% berakhir pada level $1,737.76, setelah uji tertinggi $1,752 dan terendah $1,732. Sedangkan emas berjangka kontrak Desember melemah sebanyak $14.80 atau 0.85% berakhir pada level $1,739.60 per troy ons di Divisi Comex.
Minyak
Harga minyak mentah dunia anjlok hampir 7% dipasar spot selama sesi perdagangan awal pekan ini (21/11), sebelum akhirnya kembali merangkat naik kembali ke level $80 per barel.
Pelemahan terjadi karena kekhawatiran tentang lonjakan covid19 di China semakin tak terkendali meski pengetatan telah dilakukan. Disisi lain, tekanan pada harga minyak datang setelah munculnya kabar bahwa OPEC+ tengah mempertimbangkan untuk meningkatkan produksi minyak mentah sebesar 500.000 barel menjelang embargo minyak yang dikenakan pada minyak Rusia.
Namun, harga mulai pulih dari sesi terendah $75.30 setelah Pejabat Saudi membantah berita bahwa OPEC+ mempertimbangkan untuk meningkatkan produksi minyak. Dipasar spot, harga minyak ditutup melemah sekitar $0.08 atau 0.10% berakhir pada level $80.27 per barel setelah uji terendah $75.30.
Minyak mentah berjangka WTI AS menetap pada level $80.19 per barel, naik tipis sekitar 8 sen atau 0.1%. Sedangkan minyak berjangka Brent London, mencatatkan kerugian sekitar $0.17 atau 0.19% berakhir pada level $87.45 per barel.
Sentimen
Memasuki sesi perdagangan Selasa (22/11), pasar global akan kembali terfokus pada perkembangan kasus Covid19 di China. Lonjakan yang terjadi akan terus mendorong Dolar menguat dan menekan pasar rival utamanya. Hingga sesi perdagangan Amerika malam nanti, pasar akan sepi dari jadwal data ekonomi.