Berhasil Hindari ‘Shutdown’, AS Ciptakan Bom Waktu Hingga 45 hari Kedepan
Pekan ini pasar akan dibuka dengan penuh ketidakpastian melihat tingginya kekhawatiran Investor atas disepakatinya UUD Pendanaan Sementara oleh pemerintah AS hingga 45 hari kedepan, yang artinya pemerintah akan menghadapi masalah yang sama pada pertengahan November mendatang.
Kesepakatan tersebut dibuat untuk menghindari shutdown yang jatuh tempo pada 1 Oktober 2023. Sebelumnya, selama akhir pekan lalu (29/9) investor terus berburu Dolar karena kekhawatiran tentang ‘shutdown’ AS terus meningkat, dan investor sadar bahwa pada akhirnya kesepakatan akan tercapai. Indeks Dolar berakhir menguat 6 poin atau 0.06% pada level 106.19, setelah capai terendah 105.66. Dolar naik 0.55% dalam seminggu terakhir – menandai kenaikan mingguan ke-11 berturut-turut.
Pada awal pekan ini, sentimen pasar global berpotensi membebani Dolar karena bayang-bayang ‘shutdown’ dimasa akan datang dan berpotensi memicu aksi profit taking setelah sepekan pasar aset berisiko tertekan oleh penguatan Dolar.
Matauang
Selama sesi perdagangan akhir pekan lalu – reboundnya Dolar dari level terendah hariannya, mendorong selera terhadap pasar berisiko melemah. Pasangan EUR/USD turun dari level tertinggi hariannya dan berakhir naik hanya sektiar 7 poin atau 0.07% pada level 1.05716, setelah capai tertinggi 1.06166.
AUD/USD naik sekitar 5 poin atau 0.08% pada level 0.64311, setelah capai tertinggi 0.65002 dan terendah 0.64204. Sementara GBP/USD menetap pada level 1.22004, setelah naik sehingga setinggi 1.22711.
USD/JPY berakhir melemah dan ditutup mendekati level tertinggi sejak Oktober setelah Bank of Japan (BoJ) mengumumkan pembelian obligasi tidak terjadwal, yang menunjukkan tekadnya untuk menjaga imbal hasil obligasi tetap terkendali. USD/JPY berakhir naik sebanyak 7 poin atau 0.05% pada level 149.348, setelah sempat uji terendah 148.518.
Emas
Harga emas runtuh dari level tertinggi hariannya merespon penguatan Dolar selama akhir pekan lalu (29/9) ditengah gejolak politik AS, pembelian obligasi tidak terjadwal oleh BOJ dan kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global.
Dipasar spot, harga emas berakhir melemah sebanyak $15.77 atau 0.85% pada level $1,848.52 per ons, setelah capai tertinggi $1,879 dan terendah $1,846.
Sementara emas berjangka kontrak Desember berakhir melemah sebanyak $15.70 atau 0.83% pada level $1,866.10 per ons, setelah capai tertinggi $1,896 dan terendah $1,862 di Divisi Comex.
Harga emas anjlok lebih dari 4% dalam sepekan terakhir dan mengakhiri perdagangan kuartal ke-3 tahun ini dengan kerugian lebih dari 6%.
Minyak
Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 1% selama sesi perdagangan Jumat (29/9) dan turun untuk hari kedua berturut-turut karena meningkatnya kekhawatiran seputar kondisi makroekonomi dan aksi ambil untung setelah mencapai level tertinggi sejak Agustus tahun lalu.
Dipasar spot, harga minyak berakhir melemah sebanyak $1.09 atau 1.20% pada level $89.79 per barel, setelah capai tertinggi $92.08 dan terendah $89.46. Perlu diketahui bahwa, selama kuartal ke-3 Harga minyak telah naik lebih dari 27% merespon pengurangan produksi OPEC+ yang terus menekan pasokan minyak mentah global.
Minyak mentah berjangka WTI AS turun sebanyak $1.02 atau 1.11% pada level $90.79 per barel. Sedangkan Minyak mentah berjangka Brent London turun sebanyak $0.90 tau 0.97% pada level $92.20 per barel.
Sentimen
Terhindarnya shutdown AS, setelah disepakatinya UUD Anggaran terbaru 5 jam sebelum jatuh tempo 1 Oktober 2023 menandakan bahwa pasar akan kembali berkutat pada serangkaian data ekonomi utama AS.
Pekan ini, fokus pasar akan tertuju pada laporan tenaga kerja AS – dimulai dari laporan ADP Employment Change, Klaim Pengangguran dan Nonfarm Payrolls.
Selama sepekan kedepan, pasar Tiongkok akan ditutup dalam rangka ‘National Day’ dan akan kembali dibuka pada Senin mendatang 9 Oktober 2023.