FTSE Russell Menyoroti Kekhawatiran ESG Terkait Eksposur Terhadap Teknologi AI
FTSE Russell, unit bisnis penyedia indeks milik London Stock Exchange Group, menerima pertanyaan dari klien mengenai perlunya mengurangi eksposur terhadap saham-saham teknologi. Hal ini dipicu oleh pertimbangan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) terkait pengembangan kecerdasan buatan (AI) di sektor tersebut, demikian dilaporkan Bloomberg pada hari Selasa.
Penyedia indeks berkelanjutan dan skor ESG semakin sering ditanya mengenai bagaimana dampak AI terhadap konsumsi energi dan penggunaan air mengubah profil perusahaan yang selama ini dianggap sebagai panutan dalam hal ESG, menurut laporan tersebut.
Klien mulai mempertanyakan apakah jejak iklim perusahaan penyedia infrastruktur komputasi skala besar (hyperscaler) akan secara otomatis berdampak pada penurunan bobot saham mereka dalam indeks berkelanjutan, ujar Lee Clements, kepala riset investasi berkelanjutan terapan di FTSE Russell.
Investasi pasif senilai sekitar US$330 miliar melacak indeks berkelanjutan FTSE Russell, meskipun total aset yang menggunakan indeks tersebut sebagai tolok ukur kemungkinan jauh lebih besar, tambah laporan itu.
Untuk saat ini, FTSE Russell menilai eksposur risiko keberlanjutan masing-masing perusahaan teknologi secara individual (kasus per kasus), di mana penentuan bobot antarperusahaan teknologi kini semakin mencerminkan risiko-risiko tersebut, kata Clements tanpa menyebutkan nama perusahaan secara spesifik.
Ia mengatakan bahwa klien yang menggunakan indeks tersebut khawatir pengurangan eksposur dapat menimbulkan kerugian finansial, mengingat mereka telah bertahun-tahun mengandalkan saham teknologi untuk memperoleh imbal hasil yang kuat; ia menambahkan bahwa sektor ini sebelumnya berada di posisi istimewa yang kini mulai memudar.
Bagi pasar dana berkelanjutan senilai US$3,7 triliun, perusahaan teknologi raksasa (Big Tech) selama ini dianggap sebagai pilihan investasi rendah karbon dan tidak terlalu kontroversial secara etis dibandingkan dengan perusahaan bahan bakar fosil, senjata, atau tembakau, menurut laporan tersebut.
Namun, pembangunan infrastruktur AI yang pesat, serta kekhawatiran mengenai hilangnya lapangan kerja dan risiko AI, kini mulai menggoyahkan pandangan tersebut, tambah laporan itu.
Sophie Flak, mitra pengelola bidang keberlanjutan di Eurazeo SE, mengaku terkejut karena investor belum memberikan perhatian lebih pada risiko ESG terkait AI; ia berpendapat bahwa kebutuhan dasar tidak boleh dikorbankan demi infrastruktur data, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.
Di Morningstar Sustainalytics, klien juga menanyakan bagaimana jejak lingkungan sektor tersebut dapat memengaruhi bobot investasi, ujar Clark Barr, kepala global metodologi ESG. Perusahaan teknologi yang sebelumnya berfokus pada energi terbarukan kini lebih mengandalkan gas alam untuk menopang infrastruktur AI—yang berdampak pada emisi—sementara penggunaan air juga menjadi perhatian serius.
Menurut Clements, para investor yang memantau indeks yang selaras dengan standar UE, Perjanjian Paris, atau transisi iklim merasa sangat khawatir mengingat adanya kriteria emisi yang ketat.
Ia menambahkan bahwa klien menaruh perhatian pada perusahaan hyperscaler yang mengoperasikan pusat data berskala besar, serta ingin mengetahui apakah jejak karbon yang lebih besar dapat mengurangi bobot sektor teknologi dalam indeks secara keseluruhan.