Harga Emas Anjlok, Ditengah Prospek Suram Tenaga Kerja AS Picu Peluang Kenaikan Suku Bunga
Harga emas anjlok dari level tertinggi $1,890 setelah rangkaian kekhawatiran tentang laporan tenaga kerja dan langkah the Fed untuk mempertahankan pengetatan moneter dimasa mendatang menjadi momok mengerikan ditengah trend PHK berbanding terbalik dengan laporan tenaga kerja AS pekan lalu.
Sebelumnya harga emas sempat bergerak merangkak naik mencapai level tertinggi baru dalam pekan ini, sesaat setelah laporan Klaim Pengangguran AS meningkat sebanyak 196K dalam sepekan terakhir. Laporan tersebut, ternyata menumbuhkan kekhawatiran tentang prospek sektor tenaga kerja AS karena banyaknya laporan pemotongan tenaga kerja pada banyak perusahaan Amerika selama kuartal pertama tahun ini.
Bersamaan dengan kekhawatiran tersebut, spekulasi tentang the Fed untuk kembali mempertahankan kebijakan moneternya saat ini kembali meningkat – mendorong harga emas kembali tertekan meskipun Dolar juga turut merana. Serangkaian komentar Hawkish pejabat Federal Reserve juga tak mampu mendorong Dolar bergerak lebih tinggi.
Presiden Fed New York John Williams berpendapat bahwa lebih banyak kenaikan suku bunga diperlukan karena bank sentral AS berjuang untuk mengekang inflasi yang tinggi di Amerika Serikat. Disisi lain, Lisa D. Cook menyampaikan bahwa menaikkan suku bunga yang lebih kecil dinilai “tepat” karena bank sentral menilai efek pengetatan kumulatif. Sementara Presiden Fed Minnesota Neil Kashkari menambahkan berkomentar bahwa dirinya yakin Federal Funds Rate (FFR) perlu naik setidaknya hingga setinggi 5,4%.
Dipasar spot, harga emas ditutup melemah sebanyak $13.72 atau 0.74% berakhir pada level $1,861.42. setelah uji tertinggi $1,890 dan terendah $1,858. Emas berjangka kontrak April ditutup melemah sebanyak $12.20 atau 0.65% berakhir pada level $1,878.50 per ons di Divisi Comex.
Dolar
Dolar terkoreksi tajam sesaat setelah laporan Klaim pengangguran AS dirilis naik sebanyak 196K dalam sepekan terakhir, lebih besar dibandingkan perkiraan dan data sebelumnya pada 190K (F) dan 183K (P). Dolar bahkan enggan bergerak lebih tinggi setelah sederetan pandangan dari pejabat the Fed berpendapat bahwa lebih banyak kenaikan suku bunga diperlukan karena bank sentral AS berjuang untuk mengekang inflasi yang tinggi di Amerika Serikat.
Dolar menyelesaikan perdagangan Kamis (9/2) dengan kerugian sekitar 26 poin atau 0.25% berakhir pada level 103.22, setelah uji tertinggi 103.56 dan terendah 102.64.
Pasangan EUR/USD berakhir dengan keuntungan moderat – naik sekitar 23 poin atau 0.22% berakhir pada level 1.0737, setelah uji tertinggi 1.0790 ditengah pelemahan Dolar. Disisi lain, laporan Indeks Harga Konsumen Harmonisasi Jerman (HICP) turun menjadi 9,2% lebih rendah dibandingkan konsensus 10,0% dan rilis sebelumnya 9,6%.
GBP/USD menyelesaikan perdagangan Kamis (9/2) dengan keuntungan sebesar 47 poin atau 0.39% berakhir pada level 1.21164, setelah uji tertinggi 1.2193 dan terendah 1.2056. AUD/USD ditutup menguat sebanyak 12 poin atau 0.17% berakhir pada level 0.6934.
Sementara Yen Jepang berakhir hampir tidak berubah – setelah diperdagangkan cukup volatile mencapai terendah hariannya pada 130.33 ditengah spekulasi bahwa Perdana Menteri Jepang Kishida diperkirakan akan menunjuk pengganti Gubernur BOJ Kuroda minggu depan. Spekulasi berkisar pada apakah Kishida akan memilih pemimpin bank sentral yang lebih agresif yang akan mengakhiri kebijakan moneter yang sangat longgar. USD/JPY berakhir naik sekitar 8 poin atau 0.06% melemah pada level 131.52.
Minyak
Harga minyak mentah dunia terkoreksi – mengakhiri kenaikan beruntun selama tiga hari perdagangan setelah laporan gempa bumi Turki yang menewaskan setidaknya 19.000 korban jiwa.
Dipasar spot, harga minyak ditutup melemah sebanyak 83 sen atau 1.07% berakhir pada level $77.64 per barel, setelah uji tertinggi $78.82 dan terendah $76.52. Minyak mentah berjangka WTI AS ditutup turun sekitar $0.41 atau 0.53% berakhir pada level $78.06 per barel, sedangkan Brent London turun sekitar 59 sen atau 0.70% berada pada level $84.50 per barel.
Penurunan diperkirakan tidak akan berlangsung lama, karena prospek tentang pulihnya permintaan china sebagai konsumen komoditas emas terbesar cukup memberikan dorongan positif. Sebuah laporan menunjukkan bahwa laporan menunjukkan bahwa konsumsi minyak China akan meningkatkan produksi minyak mentah sebesar 1 juta barel per hari, seiring dengan pelonggaran tindakan Covid-19.
Sentimen
Memasuki sesi perdagangan akhir pekan (10/2) fokus utama pasar global akan tertuju pada laporan inflasi Jepang dan China yang akan dirilis pagi ini masing-masing pada pukul 06:30 WIB (JPY) dan 08:30 WIB (CNY). Disesi siang nanti, fokus akan bergeres pada laporan GDP kuartal ke-4 Inggris pada pukul 14:00 WIB. Sementara selama sesi perdagangan Amerika malam nanti, pasar hanya akan terfokus pada laporan Consumer Sentiment AS oleh Univ. Of Michigan pada pukul 22:00 WIB.