Saham Indonesia Terperosok ke Level Terendah dalam 2 Bulan Akibat Penurunan yang Kian Dalam
Saham-saham Indonesia anjlok 94 poin, atau 1,3%, ke level 6.064 pada perdagangan Selasa pagi, melanjutkan tren penurunan selama empat sesi berturut-turut hingga mencapai titik terendah sejak akhir Juli.
Sentimen pasar melemah seiring turunnya kontrak berjangka (futures) saham AS setelah kejatuhan Wall Street pada perdagangan sebelumnya, ditambah dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) yang bertahan di level tertinggi dalam beberapa tahun di tengah kembali memanasnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi serta prospek kenaikan suku bunga lanjutan.
Di dalam negeri, kenaikan harga minyak membebani prospek fiskal dan selera risiko investor, yang diperparah oleh aturan perdagangan baru yang memungkinkan harga saham di pasar reguler dan pasar tunai turun hingga ke level Rp1 sebagai bagian dari reformasi bursa yang lebih luas. Sikap hati-hati juga mewarnai pasar menjelang rilis data perdagangan bulan Agustus dan data inflasi bulan September yang dijadwalkan keluar pekan ini. Dari Tiongkok, yang merupakan mitra dagang utama, pasar juga menantikan rilis data PMI bulan September, baik dari sumber resmi maupun survei swasta. Seluruh sektor mencatatkan penurunan, dipimpin oleh sektor teknologi, barang konsumsi siklikal (cyclicals), transportasi, dan energi. Saham-saham yang mencatatkan penurunan signifikan antara lain Gojek Tokopedia (-14,0%), Petrindo Jaya Kreasi (-7,1%), Adaro Andalan (-6,5%), dan Darma Henwa (-5,1%).