Dolar Potensi Kembali Menguat, Respon Serangkaian Serangan Rusia di Ukraina selama Akhir Pekan
Dolar melemah selama sesi perdagangan Jumat (25/2), setelah pasar safehaven kehilangan daya tarik karena pasar optimis pada rencana pertemuan Pemerintah Rusia dan Ukraina, mendorong penguatan tajam pada aset berisiko.
Hingga penutupan Jumat (25/2), Dolar ditutup melemah sebanyak 52 poin atau 0.54% berakhir pada level 96.57, setelah sebelumnya sempat diperdagangkan hingga setinggi 97.22 dan serendah 96.55. Matauang Euro diperdagangkan menguat sebanyak 76 poin atau 0.67% berakhir pada level 1.1267, setelah sempat uji terendah 1.1165.
Sterling ditutup menguat terhadap Dolar, naik sebanyak 35 poin atau 0.26% berakhir pada level 1.3410, setelah sempat uji terendah 1.3366. Sementara AUD/USD ditutup menguat sebanyak 67 poin atau 0.93% berakhir pada level 0.7227.
Memasuki sesi perdagangan pekan ini, pasar matauang diperkirakan akan kembali diperdagangan cukup volatile – dengan resiko penurunan masih terlihat dipasar matauang rival utama Dolar. Invasi Rusia terhadap Ukraina masih akan menjadi fokus utama pasar global.
Terlebih setelah Rudal menghantam ibu kota Ukraina pada hari Jumat (25/2). Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy memohon kepada masyarakat internasional untuk berbuat lebih banyak, dan mengatakan sanksi yang diumumkan sejauh ini tidak cukup untuk membuat Rusia gentar.
Diluar dari sentiment geopolitik, pasar global juga akan terfokus pada rangkaian laporan tenaga kerja AS diantaranya : ADP Employment Change (2/3), Klaim Pengangguran (3/3) dan Nonfarm Payrolls AS (4/3).